Mengkritisi Film Perempuan Berkalung Sorban

foto film perempuan berkalung sorbanSaya belum menonton film Perempuan berkalung sorban, namun banyak teman saya yang sudah menyaksikannya. Dari review yang saya dengar maka saya ingin sedikit memberikan ulasan. Dari setumpuk info yang dihidangkan, saya mendapat masukan bahwa tokoh utama film ini bernama Annisa (Revalina S Temat), seorang santriwati sebuah pesantren yang di pimpin oleh ayahnya sendiri.

Annisa hidup dalam lingkungan dimana seorang wanita adalah mahluk nomor 2, hak wanita dibatasi oleh aturan yang memaksa mereka harus (selalu) tunduk pada keinginan lelaki. Lelaki menjadi raja diraja, sedangkan wanita tidak lebih sekedar budaknya. Annisa berontak terhadap kondisi yang menjerat dirinya secara individu dan kaumnya secara general, dalih agama selalu dijadikan pembenaran atas kondisi yang memasung Annisa dan kaumnya.

Apakah peristiwa yang menimpa tokoh Annisa di film perempuan berkalung sorban merupakan gambaran lazim kaum wanita di lingkungan pesantren? Tentu tidak! Karena hal tersebut bukanlah kondisi umum yang dapat ditemui di pesantren.

Tokoh ayah (Joshua Pandelaky) dalam film tersebut sangatlah berlebihan, sehingga memberi keraguan pemirsa apakah orang seperti itu benar ada di alam nyata? Saya maklum karena film Indonesia dengan kualitas seadaanya, paling asik mendramatisir dan memberi kesan hyperbola.

Ayah Annisa dalam film tersebut, sama sekali bukan tipe seorang ayah Islami yang di idamkan Islam. Seorang ayah Islami harusnya bertutur sapa dengan lembut terhadap anak-anaknya dan membimbing keluarganya, bukan malah menjerumuskan anaknya untuk menikahi pemuda pemabuk yang rusak ahlak hanya demi kemajuan pesantrennya.

Dan yang lebih memprihatinkan lagi, film perempuan berkalung sorban dalam beberapa dialog membawa dalih Islami sebagai jawaban terhadap protes Annisa, seperti masalah Poligami dan hak wanita. Seolah-olah Islam menjustifikasi penindasan yang di alami Annisa dan kaum wanita secara umum.

Bukankah masalah poligami ada aturannya? Allah SWT dengan kaku menggaris bawahi…Kamu Harus Adil! & Tidak ada yang dapat Adil! Kalimat tersebut harusnya di jadikan LAMPU MERAH terhadap siapapun yang ingin berpoligami, bukan sebagai pintu lebar terbuka untuk mempunyai istri maksimal 4.

Jika di lihat dari sebab turun ayat Poligami adalah disaat perang sering terjadi di Madinah. Perbandingan populasi kaum pria tidak seimbang dengan populasi wanita. Oleh karenanya poligami dijadikan solusi. Melihat sebab-musababnya, maka saya lebih cenderung menafsirkan ayat poligami menurut Asbab Nuzul-nya daripada Lafaz, dalam artian ayat tersebut berlaku dalam kondisi dimana ayat tersebut di turunkan bukan secara Lafaz yang dapat di aplikasikan kapan saja.

Film Perempuan berkalung surban seolah menghadirkan potret dari nasib kaum wanita Muslimah di lingkungan dimana aturan Islam di amalkan secara kaffah.

Jika bicara aturan Islam, maka contoh paling baik ialah dengan merefer ajaran Islam sendiri dan tokoh-tokoh Islam. Nabi Muhammad saw dengan tegas menyatakan bahwa mencari Ilmu ialah kewajiban setiap Muslim (baik pria pula wanita)

Nabi Muhammad saw berkata,”Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (Diriwayatkan dalam Al-Bayhaqi dan Ibn-Majah, dikutip oleh M.S. Afifi, Al-Mar’ah Wa Huququha Fil-Islam (dalam bahasa Arab), Maktabat Al-Nahdhah, Kairo, Mesir, 1988, h. 71.)

Namun dalam film tersebut seolah-olah Islam memberangus hak wanita dan kewajiban wanita untuk berpendidikan. Jika kita menelaah lebih dalam lagi, maka di temui contoh yang sangat banyak dimana Nabi Muhammad (Saw) menyerukan umatnya untuk berpendidikan, wanita sekalipun.

Malik ibn Huwayruth dan sekelompok pria datang kepada Rasulullah saw untuk hidup didekatnya untuk belajar kepada baginda. Dan ketika mereka selesai dan berkemas untuk pulang, Rasulullah saw berpesan kepada mereka “Kembalilah kepada istri-istrimu dan anak-anakmu dan tinggalah bersama mereka. Ajari mereka apa yang telah kalian pelajari dan mintalah mereka untuk mengamalkannya.” ( al Bukhari)

Bahkan dimasa Nabi Muhammad terdapat lasykar-lasykar wanita yang maju kemedan perang bersama tentara Muslim. Seperti Ummi Attiyah:

Ummi Atiyyah: Sejumlah sahabah dan kaum cendikiawan diantara tabiin biasa mengunjunginya untuk mempelajari beragam aspek berkenaan hukum Islam darinya di Basrah. Dia pula meriwayatkan hadis Nabi Muhammad saw. Imam Nawawi berkata,”Dia sahabiyah yang cendikia dan salah seorang yang pergi kemedan jihad bersalam Rasulullah saw. (taghib al asma was sifaat vol w h 364)

Untuk melihat lebih lanjut silahkan ke: Wanita dan pendidikan sebenarnya dalam Islam.

Islam juga menyerukan kepada Muslim pria pula Muslim perempuan untuk menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qur’an, 9:71)

Namun film tersebut menggambarkan wanita tidak lebih seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, berjalan menurut keinginan sang lelaki.

Di film tersebut digambarkan seolah-olah Islam membolehkan bagi suami Muslim untuk bertindak kejam terhadap istrinya. Pada kenyataannya, hal tersebut sangatlah bertentangan dengan ahlak Nabi Muhammad saw, yang dalam suatu kejadian Beliau lebih memilih untuk tidur diluar rumah daripada membangunkan istrinya ketika pulang terlalu malam dan Beliau tidak pernah menjadi marah apabila makanan belum tersedia.

Dari salah satu kisah, disebutkan bahwa pada suatu pagi Rasulullah bertanya kepada Aisyah apakah makanan sudah tersedia. Aisyah menjawab bahwa ia belum mempersiapkan makanan untuk pagi itu. Dengan sabarnya, Rasul hanya berkata bahwa ia akan berpuasa saja pada hari itu. Rasul tidak sedikitpun menjadi kecewa ataupun marah akan keadaan tersebut. Rasulullah bahkan pernah berkata: “sebaik2 lelaki adalah lelaki yang paling baik dan lemah lembut terhadap istrinya.”

Dan buku-buku non Islami tulisan Pramodiya Ananta toer yang dibakar di film itu, seolah-olah sebagai jawaban atas kesengsaraan kaum Muslimah yang tertindas oleh aturan Islam.

Telah banyak film maupun buku yang berusaha mendeskriditkan Islam baik secara halus maupun kasar, mereka tidak saja dari golongan non Muslim namun juga yang mengaku sebagai Muslim, seperti gerombolan penggasong Sepilis.

Dan film perempuan berkalung sorban ini cenderung memberi persepsi salah kaprah tentang lingkungan yang Islami dan ajaran Islam yang diangkat untuk memberi gambaran negatif betapa ajaran Islam tidak memihak kaum wanita.

Sampai jumpa diposting berikutnya. Wassallam.

44 Responses to Mengkritisi Film Perempuan Berkalung Sorban

  1. eshape says:

    Salam.

    Di Film ini memang banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

    Misalnya betapa kuasanya seorang suami terhadap istrinya, sehingga dia berhak 100% terhadap “tubuh” istrinya.

    Namun di pasangan yang lain, terlihat betapa indahnya keluarga yang dibangun oleh Lik Khudori. Sepasang suami istri yang saling berbagi dalam berumah tangga.

    Jadi memang banyak kelemahan film ini, jika dianggap sebagai kajian Islam. Ini bukan film tunutunan Islam

    Ini hanyalah film tontonan, kalau kita ingin punya tuntunan, maka berpeganglah pada Al Quran dan AL Hadits.

    Bagi yang ingin menonton film ini, berangkatlah dengan anggapan bahwa kita akan melihat suatu tontonan dan bukan tunutunan.

    Salam.

  2. warnapastel says:

    “Ayah Annisa dalam film tersebut, sama sekali bukan tipe seorang ayah Islami yang di idamkan Islam.”

    Mungkin itu justru pesan yang ingin disampaikan. Ada orang-orang yang mungkin seperti ini. Ini mungkin loh.. Hehe

  3. Abi says:

    “Bagi yang ingin menonton film ini, berangkatlah dengan anggapan bahwa kita akan melihat suatu tontonan dan bukan tunutunan.”

    Setuju sekali,

    Namun ada upaya dari para pengusung sepilis untuk menjadikan film ini sebagai tuntutan,

    Warnapastel, Mungkin saja ada namun Allahu a’llam

  4. Trish says:

    assalamualaikum wr. wb.
    saya setuju dgn warnapastel, tokoh2 seperti ayah annisa, anisah,guru2 pesantren dan t0k0h2 yg lainny inilah sebenarny yg ingin ditunjukkan. kadang ada 0rang yg seolah2 dr luar tampak islami, tp pemikiranny ternyata belum islami yg sesungguhny.
    ayah yg eg0 dgn beban menjaga nama baikny sbagai pemimpin sebuah pesantren, dan santriwati yg lugu karena tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi dan mengkaji islam dgn layak, (wajar setingny kan ta0n 80-an dimana met0de diskusi atau jawaban terbuka jarang atau bahkan tidak pernah ada di sekolahan Ind0nesia, iya kan?! semua cuma mencangkup benar at0 salah! liat az di film gie, guru hanya mencek0ki muridny dgn ilmu dan d0gma2, mereka tdak diberi kesempatan untuk memahami ilmu tsb, jawaban/pemikiran yg dianggap benar adalah bila sama persis dg gurunya. jujur saya pernah mengalaminy saat SD dimana ketika teman saya mempr0tes jawaban guru, guru tsb malah menghardik tman saya dan menyatakan bahwa dia murid yg s0k pintar dan suka pr0tes. setelah smp bru saya ketahui bahwa jawaban sang guru sd benar2 salah dan fatal, yg benar adalah jawbn tman saya). Akhirny ia merasa dan men-judge jika islam tidak adil! saya yakin orang2 dan pemikiran seperti itu masih ada. saya sudah menonton filmny, dan saya tidak merasa terpengaruh yang tidak2 dgn film ini. saya malah mendapatkan nilai2 p0sitif. karena menurut saya, dalam film ini islam tidak ditampakkan buruk, tapi umat islamny yg masih belum bisa menafsirkan dan menjalankan islam secra kaffah. baik anisah maupun t0k0h2 yg lain diceritakan sbagai manusia biasa, bukan jelmaan malaikat yg tak pernah salah dan tanpa kekurangan. mereka pure manusia yg penuh dgn realita kemanusiawian.
    tapi film ini mang terg0l0ng film dewasa, para orang tua yg ingin men0nt0nny sbaikny tdak mengajak anakny serta khawatir mereka salah menafsirkan, karena anak2 masih polos dan masih memandang dunia sebagai hitam putih,
    sekian urun rembug saya terima kasih

  5. ahmad nurrizqi shafari says:

    emang film ini ga bagus buat pendidikan,

    ga mencerminkan kebaikan islam. parh nih film. gw emang udah ga setuju dengan hanung…

  6. Abi says:

    @Trish waalikum sallam.

    Mungkin saja ada tipe ayah seperti itu (jujur secara pribadi saya belum pernah ketemu terlebih lagi ia seorang pim-ponpes atau Kiyai) namun yg menjadi masalah ialah, film tersebut tidak mengklarifikasi bahwa tindakan sang ayah yg digambarkan disitu adalah salah dan tidak Islami. Film tersebut terus saja menghadirkan sosok ayah yg notabene seorang ulama, kyai dan pim-ponpes , sringkali membawa dalih agama untuk memenjarakan putrinya. Jika film Perempuan berkalung sorban ingin menghardik umat Islam yg dinilai salah, harusnya film tersebut juga menghadirkan nilai Islam yg benar, agar seimbang dan mendidik penontonnya.

    @Ahmad Nurrizqi, seperti kata Eshape film ini hanya sebuah tontonan tidak ada unsur edukatif, kecuali menyelewengkan opini tentang Islam.

    & Terima kasih untuk semua yang telah mampir dan berkomentar.

  7. Helmy says:

    ini nih bukan fim islam, cuman berlatar islami (krn di Pondok).
    isinya feminis bgt

    “Bagi yang ingin menonton film ini, berangkatlah dengan anggapan bahwa kita akan melihat suatu tontonan dan bukan tunutunan.”’

    stuju bro!

  8. sairillah says:

    sebuah film yg sarat akan pendidikan namun sarat jg akan ketidakbenaran ttg “keislamian”

  9. aki sobana says:

    saat sekarang ini masyarakat susah membedakan mana tontonan mana tuntunan karena pemahaman tentang Al Quran dan hadistnya masih dangkal.Acara di TV juga banyak yang menyesatkan mengapa tidak disosoti padahal ini lebih mudah diakses daripada film perempuan berkalung sorban.Kita semua bertanggung jawab dunia akhirat dengan apa yang telah diamanatkan pada kita,entah itu sutradara,badan sensor film,MUI,bahkan saya sendiri yang menulis komen ini.Waallahu alam bishawab.

  10. AMORY71 says:

    Film ini secara tradisional bersetting di kampung kita, bahasa kita, budaya dan agama kita. Namun karena kita sudah diBRAINWASH dengan FAITH, FOOD, FINANCE,FASHION,FUN nya AS dan Israel maka jadilah film ini. Alasannya biasa..! demi kemajuan, perubahan, pencerahan dan kata2 tipu muslihat lainnya. Padahal isinya tidak jauh dari melecehkan dan memperolok-olok seperti biasa Yahudi bikin film tentang Islam. Bila Benyamin Netanyahu tahu tentang film ini saya yakin, dia akan menganugrahkan JUBILEE AWARD buat Hanung dkk. Apalagi disitu ada bintang bernama yahudi : ‘Joshua’. Israel pasti seneeeng banget

  11. gentho says:

    Jika nyimak rangkaian dua film sblmnya yg – maunya – dikemas dlm setting ‘religius’ yaitu “Ayat2 Cinta” (AAC) dan “Doa yg Mengancam”, lalu “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS), spt ada upaya Hanung utk berubah haluan atau balik ‘memberontak’ (demi atau tanpa sensasi?) dg membuat film yg kontroversial. Krn dua film sblmnya relatif tdk menimbulkan reaksi yg kontra di ranah publik. Seorang sutradara, produser, dsb mestinya paham dan mengantisipasi respon/reaksi thd karyanya saat dirilis ke publik.

    Mungkin film PBS memang sengaja dimuati unsur kontroversial utk menarik perhatian publik agar film itu setidaknya ‘dibicarakan’ atau ‘direken’ publik. Asumsi subyektifnya, mungkin Hanung frustrasi, ‘cemburu’, melihat sambutan publik yg begitu fenomenal thd film “Laskar Pelangi” dibanding film AAC (yg mutunya memang jeblok), dan sbg ‘pelarian’ atau ‘kompensasi’ dari rasa kejengkelannya, dibuatlah film kontroversial yakni PBS. Ibaratnya, Hanung spt anak kecil yg sdg merajuk, ngambek, bete, krn tdk ada yg memperhatikan film-filmnya. :D

    Atau krn hanya ada dua pilihan agar direken publik yaitu bikin film bagus (spt “Laskar Pelangi”) atau bikin film jelek tapi kontroversial. Tapi krn pilihan pertama terlalu sulit utk Hanung maka dibikinlah film jelek bin kontroversial (spt PBS) yg memang relatif lbh mudah tanpa harus mempertimbangkan teknik sinematografi, estetika, relevansi, intelektual, dsb.

    Dan lagi ternyata film PBS diproduksi oleh Starvision milik Chand Parwez dan Raam Punjabi yg dikenal sbg ‘mafia’ sinetron di negri ini yg kerjanya memproduksi film/sinetron sampah. :D

    Blm lg jika diskusinya menyangkut paradigma, ideologi, yg membingkai film PBS yg agaknya sarat dg visi klasik kaum feminis yg memang terkenal lebay dlm soal emansipasi dan menggugat budaya patriarki. Meski para feminis lebay tsb lbh sering kebablasan dan keblinger krn jika emansipasi benar2 murni dipraktekkan akan jadi bumerang bagi kaum wanita dan para feminis itu sendiri. Bahkan sangat mungkin kaum wanita akan balik mengutuk para feminis.

    Apalagi jika mbahas kenaifan visi Hanung dlm upaya mengaplikasi simbol termasuk saat ‘mencomot’ karya sastra universal “Bumi Manusia” yg dlm PBS diposisikan sbg representasi komunisme. Sementara komunisme sendiri sdh lama habis.

    Dari segi tema film PBS termasuk kesiangan dan garing. Bahkan Siti Musdah Mulia seorang aktivis perempuan yg ‘membela’ PBS, dlm suatu debat di TVONE ‘keceplosan’ bilang bhw PBS mestinya dibuat 20 th yg lalu. Secara implisit itu dpt diartikan bhw di era spt saat ini tema2 spt yg ada dlm PBS, apalagi mengkonfrontir pesantren dan komunisme (dg cara2 yg dangkal pula) adalah sdh sangat kesiangan dan tdk relevan.

    Tidak jelas apakah Hanung, pihak produser, juga si penulis novel, sblmnya melakukan survei data yg representatif thd pesantren2 di negri ini dan melakukan check and recheck di lapangan sblm ‘mendiskreditkan’ institusi pesantren sbg contoh kasus tempat berlangsungnya apa yg oleh aktivis feminisme dilabeli sbg budaya patriarki.

    Agaknya pihak produser, juga Hanung, perlu belajar/kursus membaca karya sastra, latihan menganalisis buku “Bumi Manusia” dulu. Atau mereka bisa ikut kuliah matrikulasi kesusastraan dulu.

    :D

  12. tinung says:

    Ah, daripada menonton film fiksi yg hanya bagus kemasannya lalu didramatisir sedemikian rupa seolah-olah kisah nyata, mending menonton film India. Disebut fiksi, karena, setradisional apapun seorang santri perempuan, tdk mungkin dia memakai sorban sejenis kafiyeh Yasser Arafat sebagai kalung (seperti dalam poster filmnya), apalagi digambarkan si santriwati seorang perempuan yg berpikiran maju. Apakah ada yg pernah melihat perempuan begitu di Pesantren? Barangkali hanya Hanung dan pengarang novelnya…

  13. arif says:

    Wah ulasan yang menarik sayangnya anda masih belum menyaksikan secara langsung jadi masih berdasarakn “katanya”.. saya setuju dengan anda untuk hal2 tertentu dan apabila sebagian besar umat islam melakukan sepeti yang anda kutip tentunya poligami sudah barang tentu “ditinggalkan”…sayangnya sekarang masih ada dan bahkan hadis tsb “dipergunakan” untuk kepentingan tertentu juga ada bukan?? kalo pendapat saya setelah menonoton film ini saya memahami bahwa ada orang2 tertentu yang salah paham dalam menerapkan ajaran islam… itu saja kalo dalam realitsnya tentunya pasti ada misal pemahaman tentang jihad, tentang hub suami istri dll.. dan maka dari itulah menurut saya ada berbagai jenis tafsir Alquran yang beredar. oh ya dalam Dialognya pun Annisa mempergunakan beberapa hadis yang anda sebutkan untuk menentang pemikiran ayahnya.
    Menurut anda sebelum hari sabtu tgl 14feb 2009 ini apakaha ada pejabat wanita di kerjaan arab??? ternyata di jaman yang sudah maju ini masih ada hal itu di dunia islam.. arab lebih dahulu mendaptakan islam dan nabinya tapi pengangkatan harkat dan martabat wanitanya… for your refrence http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/16/00312892/raja.arab.saudi.meniti.reformasi

  14. arif says:

    Oh ya menurut mas buta huruf trbanyak itu di negara mana?? bukankah Islam mengajarkan untuk bebas dari kebodohan?? tapi coba mas perhatikan di negara2 arab.. bahkan sampai sang Sultan menyumbangkan USD 10jt untuk membebaskan masyrakatnya dair buta huruf… menurut mas ini salah tafsir atau apa??? inikah islam yang diajarkan Sang Nabi
    “Alislamu.com – Departemen Pendidikan, Sosial, dan Ilmu Pengetahuan Liga Arab (ALECSO) mengatakan, jumlah buta huruf di dunia Arab mengalami peningkatan. Pada tahun 1970, jumlah anak usia di bawah 15 tahun yang tidak bisa membaca mencapai 50 juta anak, sementara pada tahun 2005 mencapai 70 juta. ”
    http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=120&Itemid=38

  15. Pertamax.

    Saya tadinya lumayan tertarik buat nonton film ini, tapi setelah baca review film ini di salah satu majalah, langsung deh nggak ada minat. Saya tuh heran, banyak film-film yang nggak mengklaim diri sebagai film religius Islam, tapi isinya jauh lebih Islami daripada film-film yang mengaku sebagai film Islami. Laskar Pelangi contohnya. Apakah Riri Riza dan MiLes bilang kalo LP adalah film Islami? Nggak! Tapi liat deh isinya. Jauh lebih Islami daripada film-film macam Perempuan Berkalung Sorban dan sejenisnya.

  16. ranti says:

    Assalamualikum semua… Menurut saya film ini cukup baik. Isi ceritanya sama sekali tidak bermaksud memojokkan Islam dan menjelek-jelekkan pesantren, justru memberikan gambaran human-error artinya kekeliruan manusia dalam menafsirkan ajaran Islam. Itulah mengapa kdrt (dan poligami, padahal bukan dalam keadaan sarurat sosial) seringkali terjadi dalam masyarakat. Wassalam,

  17. dewi says:

    Asalamualaikum wr. wb
    Menurut saya film wanita berkalung surban sangat bagus. tergantung masing-masing individu melihatnya dari segi mana. Jangan selalu berfikiran negatif, berfikirlah yang positif. Saya yakin tujuan pembuatan film ini baik kok !

  18. Abi says:

    Waalikum sallam

    Ranti yah menurut kami film ini sangat tidak bagus dan kami tidak berfikiran negatif kok, namun berlandaskan Quran dan Hadis, tidak asal berfikir serampangan. Film tidak fair dalam menghadirkan Islam ke audience, Islam di gambarkan dalam bentuk “kejam terhadap perempuan” tanpa klarifikasi tanpa kesempatan membela diri. Namun kalau menurut anda bagus silahkan, dan bukan berarti fikiran anda yang positif:d. thanks for comment

  19. Abi says:

    @Arif, jika Islam diterapkan secara kaffah dan terlepas dari kepentingan hawa nafsu oknum2 jahat tentulah ia menjadi rahmat bagi siapapun, bahkan bagi non Muslim. Dan soal Arab Saudi, terima kasih infonya saya baru mengetahuinya, bertahap negara itu mula mereformasi diri asal tidak kebablasan.

    Dan soal buta huruf, buta huruf latin atau Arab mas? Karena disitu tidak dijelaskan bahasa apa, jika buta bahasa Arab saya agak bingung karena anak2x disana sejak dini dilatih baca Al Quran. Jika buta huruf bahasa latin bukan berarti mereka buta huruf kan? Seperti kita buta huruf bahasa Kanji Jepang, apakah kita juga tergolong kaum buta huruf?

  20. Abi says:

    @Ghento terima kasih banyak komentar anda benar2 padat dan berisi :)

  21. Abi says:

    Dan terima kasih untuk semua yg telah berkomentar

  22. arif says:

    @ mas abi yang baik… mas buta huruf yang dimaksud adalah huruf yang digunakan di tempat tsb kalo tidak ya ga jadi masalah mas. saya menonton beritanya di METRO tv, alasananya sederhana karena sang Nabi Ummi/buta huruf (maaf kalo salah) dan ajaran Al qur’an dilakukan secara lisan jadi positifnya mereka memilki ingatan yang kuat..
    saya berusaha bersangka baik saya khawatir jika saya menjadi orang menolak kebenaran karena kebenaran itu datangnya dari ALLAH dan bisa berwujud apa saja…sebagai contoh kisah nabi Isa AS yang ditolak oleh ahli kitab yahudi karena bukandari golonganya atau seperti kaum kafir Quraish yang menolak Sang Kekasih Allah.. semoga kita semua terhindar dari sifat iblis yang merasa lebih pintar, suci dari adam yang hanya terbuat dari tanah kotor.. kebenaran dan yang berhak menetukan kebenaran hanya ALLAH SWT yang Maha Benar jadi dengan ilmu yang sudah dititpkan Allah kepada kita sebaiknya kita kaji sedaya uoaya kita dan kita ikhlaskan kebenaran itu hanya kepada ALLAH SWT La hawla walaquata illa billah..wassalam trims

  23. Abi says:

    Mas Arif terima kasih untuk jawabannya.

    Memang benar kita wajib berprasangka baik, namun bukan berarti tidak kritis, karena kebenaran sringkali di selimuti kesesatan yang seringkali manusia tidak mawas diri, oleh karenanya penghuni Neraka banyak.

    Wassallam n terima kasih kembali.

  24. Lah, belum nonton filmnya kok reviewnya bisa panjang lebar dan menyimpulkan ta, mas?

  25. Abi says:

    @Taufiqelrahman, terus terang saja saya ga nafsu nonton film Indonesia, karena kualitasnya yang mengenaskan dan dibawah rata-rata, apalagi disuruh bayar, mending saya bayarin teman-teman saya untuk makan di warung atau restaurant. Jadi saya memang tidak pernah ingin nonton film ini, namun review yang saya dapat dari teman-teman saya sangat kredibel dan memang begitu adanya. Jadi review diatas VALID.

  26. Abu Jumu'ah says:

    UKUM MENDENGARKAN MUSIK DAN LAGU SERTA MENGIKUTI SINETRON

    Jumat, 18 Nopember 2005 15:49:41 WIB
    Oleh
    Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin
    Pertanyaan
    Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum mendengarkan
    musik dan lagu ? Apa hukum menyaksikan sinetron yang di dalamnya terdapat
    para wanita pesolek ?
    Jawaban
    Mendengarkan musik dan nyanyian haram dan tidak disangsikan keharamannya.
    Telah diriwayatkan oleh para sahabat dan salaf shalih bahwa lagu bisa
    menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati. Lagu termasuk perkataan yang
    tidak berguna. Allah Subhanahu wa TaÂ’ala berfirman.
    “Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan
    yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa
    pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan
    memperoleh azab yang menghinakan” [Luqman : 6]
    Ibnu Mas’ud dalam menafsirkan ayat ini berkata : “Demi Allah yang tiada
    tuhan selain-Nya, yang dimaksudkan adalah lagu”.
    Penafsiran seorang sahabat merupakan hujjah dan penafsirannya berada di
    tingkat tiga dalam tafsir, karena pada dasarnya tafsir itu ada tiga.
    Penafsiran Al-QurÂ’an dengan ayat Al-QurÂ’an, Penafsiran Al-QurÂ’an dengan
    hadits dan ketiga Penafsiran Al-QurÂ’an dengan penjelasan sahabat. Bahkan
    sebagian ulama menyebutkan bahwa penafsiran sahabat mempunyai hukum rafaÂ’
    (dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Namun yang benar
    adalah bahwa penafsiran sahabat tidak mempunyai hukum rafaÂ’, tetapi memang
    merupakan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran.
    Mendengarkan musik dan lagu akan menjerumuskan kepada suatu yang
    diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
    haditsnya.
    “Artinya : Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera,
    khamr dan alat musik”
    Maksudnya, menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah lelaki yang
    tidak boleh menggunakan sutera, dan menghalalkan alat-alat musik. [Hadits
    Riwayat Bukhari dari hadits Abu Malik Al-AsyÂ’ari atau Abu Amir Al-AsyÂ’ari]
    Berdasarkan hal ini saya menyampaikan nasehat kepada para saudaraku sesama
    muslim agar menghindari mendengarkan musik dan janganlah sampai tertipu
    oleh beberapa pendapat yang menyatakan halalnya lagu dan alat-alat musik,
    karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang haramnya musik sangat jelas
    dan pasti. Sedangkan menyaksikan sinetron yang ada wanitanya adalah haram
    karena bisa menyebabkan fitnah dan terpikat kepada perempuan. Rata-rata
    setiap sinetron membahayakan, meski tidak ada wanitanya atau wanita tidak
    melihat kepada pria, karena pada umumnya sinetron adalah membahayakan
    masyarakat, baik dari sisi prilakunya dan akhlaknya.
    Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa TaÂ’ala agar menjaga kaum muslimin
    dari keburukannya dan agar memperbaiki pemerintah kaum muslimin, karena
    kebaikan mereka akan memperbaiki kaum muslimin. Wallahu aÂ’lam.
    [Fatawal MarÂ’ah 1/106]
    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi
    Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan
    Penerbitan Darul Haq. Penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin]

  27. anep says:

    Menurut saya film tersebut sebagai kritik sosial yang menggambarkan bahwa ada sebagian kaum muslimin yang selalu menujukkan keislaman, padahal sikap dan tingkahlakunya jauh dari ajaran islam. Ini seperti yang digambarkan oleh ayahanda Aisyah dalam film itu sehingga memaksakan anak semata wayangnya untuk menikah kepada pemuda yang oleh Aisyah belum dikenal.
    Sehingga kalau penonton menyatakan bahwa ayah Aisyah yang disebutkan dalam kisah film itu tidak islami, memang skenarionya demikian. Justru itu salah satu keberhasilan visualisasi yang ingin disampaikan oleh pembuatnya.. Para pembaca mungkin akan lebih merasakan nikmatnya membaca kisah itu terlebih dahulu membaca novel nya. Novel Perempuan Berkalung Sorban ini sudah lama dibuat lhoo. Hal ini seperti Film “Ayat-Ayat Cinta” yang diangkat dari novel.
    Selain itu pembaca atau penonton Film Perempuan Berkalung Sorban harus memeiliki paradigma, bahwa esensi kisah tersebut merupakan pemberontakan kaum perempuan terhdap budaya patriacal yang sedemikian melekat pada budaya dan perilaku masyarakat di tanah air termasuk dalam wilayah domestik keluarga.

  28. tamam says:

    biasa ajalah ttg film ini
    bukan kitab suci kok!

    tapi, apresiasi deh buat penulis dan pencipta film-me!
    sesekali, kita perlu jujur pada diri sendiri ttg fakta tak terbantahkan bahwa, kita seringkali melanggar dari ajaran Islam…
    film ini sudah menunjukkannya!

    jangan terlalu dihakimi hitam-putih
    ini bukan kitab suci
    namun membuat kita lebih banyak merenung ttg keberagaam kita sbg umat islam…

  29. deya says:

    assalamu alaikum….
    film ” perempuan berkalung sorban” ada sisi positif yakni tentang pertegasan GENDER wanita dan laki2, yang menghargai wanita utk diberikan kebebasan bergaul, berpikir, dan bersekolah tinggi….
    walaupun akhirnya wanita tidak akan hilang kodratnya sbg @ ibu yg membimbing, mendidik, dan menuntun anak2nya kelak!

    sayang dlm film ni terlalu hiperbola….
    membatasi perilaku wanita hanya sekedar dapur, kasur, sumur,,
    sangat memprihatinkan!

  30. ARIYA KAMANDANU says:

    Pertanyaan Nabi (2) : “Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?” Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram. Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri. Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa riya’, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.

    UMAT ISLAM BERSATU…. BERSATULAH UMAT-UMAT MUHAMMAD
    INGAT ALLAH SUBHANA WATAALA
    TIDAK SADARKAH ISLAM LAGI DA DIAMBANG KEHANCURAN MORAL
    TIDAK SADARKAH ISLAM LAGI DIPERMAINKAN OLEH ORANG-ORANG YAHUDI
    DAN NASRANI….
    TEGAKAN HUKUM ISLAM
    UNTUK SEMUA GA CWE PA CWO
    KHUSUSNYA ORANG-ORANG ISLAM JANGAN MENGAKU DIRINYA ISLAM
    KALO PERILAKUNYA BUKAN KAYA UMAT MUHAMMAD
    JANGAN MALU-MALUIN ORANG-ORANG ISLAM
    INGAT SADARR……..!!!!!!!!
    TEGAKAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA PASTI dan YAKIN INDONESIA AKAN AMAN DAN TENTRAM
    GA NEKO –NEKO……. BRAPAPUN LAKI-LAKI BAYAR GA DA RUGINYA
    INGAT PARA WANITA TUBUH ANDA TIDAK BISA DIBELI OLEH UANG
    LAKI-LAKI TIDAK ADA RUGINYA……..!!!!!!

  31. iffat fadiyah says:

    mengabstrakan islam dengan memanfaatkan dalil yang di salah artikan…
    saat menonton kita harus seimbang: qhozul fikri

  32. aang says:

    saya merasa tidak ada anehnya lo. karena pengkultusan seorang kyai memang benar ada. Anak kyai yang rusak itu ada. kenapa tidak? kyai kan manusia pastinya mereka bukan rasul yang bebas dari kesalahan. di salah satu jantung pesantren di Jatim malah ada kyai yang poligami dan yang di nikahi adalah murid didiknya yang terkenal cantik2. apakah itu bohong?
    saya rasa film ini hanya berusaha memberi kenyataan bahwa kita yang muslim ini kayak gini. yang diserang bukan Islamnya….. tapi kitanya yang penganut islam. klo kita kebakarang jenggot kayak gini berarti memang kita tersindir thoooo??
    saya bukan ngomong asal karena saya hidup di kota di mana pesantren adalah sebuah mayoritas. anda tahu kenyataan di sana? tingkat moralitas rendah! semua munafik dan menutup-nutpi kenyataan yang ada. masak kota terkenal dengan nama kota pesantren sama sekali tidak ada kontribusi dengan pengendalian moralitas masyarakat di mana warga pesantren termasuk di dalamnya. Kota itu hanya ribut dengan tadarussan dengan speaker kencang, harlah, main rebana, dll apakah islam hanya sampai disitu?
    ayolah jangan picik.. buka mata kita semua… kenyataannya memang seperti itu. Mereka bukan mengolok Islam tapi kitanya yang diolok. maka jangan marah pada yang mengolok kita tapi bercermin pada diri kita sendiri. Jangan salahkan kenapa mereka dengan mudahnya mengolok kita. tapi salahkan kita sendiri mengapa Allah membiarkan kita jadi bahan olok-olokan???

  33. pablo says:

    Assalamualaikum.Wr.Wb..
    Setelah membaca review dari saudara2 semua… saya alhamdulillah semakin dan semakin sadar bahwa kita harus saling menghargai semua pendapat,cara pandang,sistem berfikir setiap manusia…
    dan menurut saya apapun sudut pandang dan cara berfikir anda…. “wanita berkalung sorban” seyogyanya bisa di ambil pelajaran dan hikmah baik darinya..
    jangan cuma mengkritisi.. tapi ayo berkarya dan terus belajar terutama tentang kearifan dan kebijaksanaan dalam semua hal……….
    INGAT!
    Di atas Fiqih masih ada Ahlaq
    Di atas Ahlaq masih ada Tauhid
    Di atas Tauhid masih ada Ma`rifat.. dst

    jangan pernah merasa cukup kemudian menjustifikasi sesuatu dengan terburu2 sesuai pengetahuan kita….
    BELAJAR DAN BELAJAR

  34. uki' says:

    Saya lebih suka menyitir dan menambah pernyataan Hanung Bramantyo, “film ini adalah film keluarga dimana ada seorang ayah (atau beberapa tokoh di film) yang coba menyalahgunakan (dalil-dalil) al-Qur’an dan hadis, untuk kepentingannya (melestarikan tradisi patrialki).”

    Saya setuju dengan apa yang disampaikan iffat, aang, dan Pablo.

    Dan tidak tertutup kemungkinan dulu ada pesantren-pesantren salafi yang dipimpin oleh kyai dengan konstruk berpikir begitu. Wong sekarang juga masih banyak koq ulama yang mengharamkan perempuan menjadi pemimpin hanya dengan menyitir dalil “al-Rijaalu qawwamuuna ‘ala al-nisa’”, tentunya dengan segala kepentingan yang ada di dalamnya.

    Dan bagi yang sudah menonton film ini baiknya kita sedikit mengambil pernyataan Widyowati (ibu Annisah), “tidak ada yang salah. Setiap orang punya pendapat dan berhak berpendapat”. So, yang salah adalah orang yang tidak bisa menghargai pendapat (karya) orang lain.

    Mengenai menyesatkan atau tidaknya, bergantung kepada sejauh mana pengetahuan orang yang nonton film itu mengenai Islam dan ajarannya. Jadi dia tahu mana yang memang benar-benar ajaran Islam, dan mana yang hanya (gambaran) pengambilan dalil (Qur’an-Hadis) untuk kepentingan atau keuntungan diri pribadi saja.

  35. magfi says:

    Setelah melihat film PBS, tidak ada pelajaran yang dapat diambil dari film tersebut, banyak sekali hal yang kontra dengan islam, mulai dari sikap ayah yang terlalu kompulsif, hingga seruan anisa yang terlalu keras kepala, di dalam islam apapun di atur dengan kelembutan dan kasih sayang bukan dengan kekerasan, Islam juga sangat menghargai wanita sebagai kodratnya. Semoga para pemirsa yang menyaksikan dapat lebih mengerti mana yang baik dan yang tidak. Tidak langsung mengjustifikasi tentang/ bahwa islam seperti film tersebut

  36. ramadoni says:

    @Magfi : Alhamdulillah berarti antum sudah mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, itu berarti antum sudah bisa mengambil hikmah dari film yang katanya “kontroversial” ini..
    lagipula perlu diingat bahwa hikmah tidak hanya bisa diambil dari hal yang positif atau menguntungkan,,.. namun hikmah juga bisa kita mabil dari hal-hal negatif atau merugikan.. syaratnya hanya satu, kita harus bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil…
    dan untuk mengetahui mana yang hak dan mana yang batil tersebut, yang kita butuhkan adalah belajar, baik dari buku, ustadz, film, dan juga pengalaman baik/buruk orang lain…

    pendapat saya sendiri mengenai film ini adalah, bagus (bila kebetulan ditonton oleh orang yang sudah cukup banyak memahami Islam dengan benar).. tapi juga berdampak negatif (bila ditonton oleh muslim yang hanya sadar dirinya seorang Muslim padahal belum secara optimal berusaha untuk memahami Islam)….
    jadi cobalah melihat diri kita sendiri melalui cermin yang ada di film ini… dan jangan pernah berhenti dalam memahami Islam…

  37. [...] melalui om google dengan keywords “perempuan berkalung sorban”, dan sampai ke blog ini dan blog itu. saya mendapati sebuah komentar yang mengatakan bahwa film ini didanai oleh sebuah LSM [...]

  38. lhynamarya says:

    saya dah nonton filemnya, menarik bangat dan sungguh inspiratif,apalagi akting revalina bagus skali sungguh buat air mata saya mengalir menghayati cerita filem ini …jd apapun kriitik negatif terhadap filem ini,mohon maaf jika saya menantang kritikus negatif thdp filem ini krn menurut saya ini adalah filem yang sangat bermakna positif bagi kaum perempuan,yang intinya film ini memberikan cermin kepada perempuan yang tertindas akibat ajaran agama yang berpemikiran kolot yang sesat,ibaratkan saya ada dalam cerita itu saya setuju dengan pendirian anisah yang berani menentang ajaran agamanya yang sedikit agak menyesatkan demi keadilan,kebebasan bagi kaum prempuan.logikanya aja,masa istri tidak boleh menceraikan suami sedangkan suami dibolehkan menduakan istri(poligami),dr situ aja dah jelas2 tdk adil,tukan jls2 menyiksa batin prempuan,apa2 haram…nonton bioskop haram,bahkan mendirikan perpustakaan aja haram,aneh..!, tp mudah2n aj..ni hanya sebuah cerita belaka dan walaupun ini cerita yang diangkat dari kisah nyata, maka filem ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bahan pelajaran mengenai sikap manusia jangan hanya memandang dari kodratnya dengan pemikiran yang sempit dan jangan lah kita semena2 memfitnah danmenghakimi orang lain yang berdosa karna hanya orang-orang yang tidak berdosa yang bisa melakukannya.

  39. Cynthia says:

    Menurut saya, yang disajikandi film ini adalah sebuah kritik terhadap islam. Di kehidupan yg sebenarnya, apakah anda tidak melihat, memang prempuan dijadikan makhluk nomor 2, disalahkan, dll.Jadi jangan hanya dilihat dr sebelah mata saja, tapi dilihat dari keseluruhan&pendapat saya, mungkin itu memang yg terjadi di masyarakat kita.

  40. bang djun says:

    oalah…..dari postingan awal kok bicara melecehkan ini kek, itu kek,… padahal sama-sama islam. lha wong film gak bermutu aja kok ditanggapi berlebihan.ayolah belajar mengkritisi aspek yang lain, misal:
    1. ni film digarap oleh seorang sutradara ternama dengan biaya besar, tapi kok banyak kesalahan fatal dalam pengambilan gambarnya.
    coba lihat lagi filmnya, amati pada menit ke 55.30 , disitu tokoh utama memegang secarik kertas dengan posisi terbuka…amati tangan dan kertasnya terus pasti akan ketahuan kesalahan fatalnya.dan yang lebih bodoh lagi diulang hingga 2 kali shoot. kemudian lanjutkan hingga temannya keluar dan duduk merapikan kerudungnya….amati kerudung itu jatuh dari lehernya, tapi begitu kamera pindah posisi kerudung itu sudah rapi melingkar di lehernya. itu sedikit dari apa yang saya lihat sekilas. sangat disayangkan sutradara sekelas hanum seceroboh itu.

  41. aji says:

    film ini bukan tuntunan dan bukan sekedar tontonan. Tapi film otokritik. 230 juta rakyat indonesia 1 orang saja menerima keadaan seperti Anisa, itu sudah cukup untuk diangkat di permukaan. Bukan untuk menjustifikasi Islam itu seperti yang ada di film ini, tapi justru supaya kejadian yang seperti dialami Anisa ini tak terjadi, atau tidak akan pernah terjadi lagi kalaupun itu benar-benar pernah terjadi.
    Btw, kalo lihat review kasus kekerasan terhadap perempuan dari LSM-LSM perempuan, kejadian dalam film ini mungkin saja terjadi, walaupun tidak bisa digeneralisir, atau di klaim ini mewakili Islam indonesia.

  42. dafi says:

    memang benar, film ini tidak bisa dijadikan tuntunan… ini hanyalah imajinasi yg g bertanggung jawab. Bisa saja seseorang dengan mudah menyalahartikan atau memojokkan Islam lewat film ini…
    banyak dalil2 Islam yg “sebagian” digunakan dan sebagian ditiadakan…
    contoh, dalam Islam, orang yg menuduh orang berzina, tapi jika tidak terbukti, atau tidak membawa saksi 4 orang yg `ADL`.. maka dia sendiri yg akan dihukum cambuk…
    tapi, diFilm, DITIADAKAN…hanya ada 3 saksi yg tidak melihat perzinaan, tapi hanya menduga, bahkan menuduh tanpa bukti, tapi tidak dihukum…

    ya, beginilah Islam saat ini, disudutkan banyak pihak, baik terang2an ataupun lewat orang2 munafik, bahkan oleh orang2 bodoh…

    tapi, Islam tidak akan hancur, mau bagaimanapun tipu muslihat mereka…
    marilah kita BERUSAHA mengharumkan nama Islam dan hanya BERUSAHA.., tidak untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan Islam itu sendiri..
    karena Allah, tidak melihat hasil, tapi Allah melihat sedahsyat apa usaha kita…

  43. Arif says:

    Setelah menonton film tersebut saya merasa entah pengarang ceritanya atau penulis skrip filmnya, sepertinya kurang pemahaman dan ilmu pengetahuannya tentang Islam. Kalo memang mau buat film yang bernuansa Islami, maka sebaiknya belajar dulu tentang Islam. Cara penyampaian pesannya buruk, dalil-dalil yang digunakan (saat scene dalam kelas) sembarangan maknanya. Bahkan contoh yang paling sederhana dari kesalahannya yaitu saat pernikahan keduanya Anisa, tidak dihadiri walinya yaitu kakaknya. Pernikahan seperti itu tidak sah dalam Islam. Contoh sederhananya lagi saat Anisa dan ibunya sholat berjamaah. Seharusnya jika 2 wanita berjamaah posisinya sejajar, bukan depan belakang seperti laki-laki.

  44. egi says:

    sejak saya nonton film ini waktu pemutaran perdananya awal 2009 lalu, saya sudah sangat tidak setuju dengan ceritanya. yang mengesankan bahwa Islam adalah agama yang suka merendahkan kaum perempuan dan menomor duakan hak asasinya, serta menjadikan mereka sebagai budak nafsu laki2. hal2 yang saya sebutkan itu tidak ada dalam ajaran dan akidah Islam. justru Islam adalah agama yang sangat memuliakan dan mensucikan kaum perempuan. jadi, bisa dibilang, film ini sangat melencengkan akidah agama Islam dan nggak pantas dijadikan sumber edukasi yang baik!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>