Isi EMAIL Ibu Prita Mulyasari
Berikut ini merupakan isi dari email Ibu Prita Mulyasari, seorang bekas pasien RS OMNI Internasional, email inilah yang menyebabkan dia dijebloskan ke penjara karena tuduhan mencemarkan nama baik RS OMNI Internasional, jika ingin membacanya inilah email-email tersebut:
Email Bagian 1 (Dikutip dari Suara Pembaca detik.com)
Email ini saya posting atas tanggapan pada posting:
Masuk Bui Karena Menulis Email
Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.
Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.
Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.
Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.
RE: Isi email Prita Mulyasari
Email Bagian 2
dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.
Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.
Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.
Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.
RE: Isi email Prita Mulyasari
Email Bagian 3 (tamat)
Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan ? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.
Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.
Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.
Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.
Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@ yahoo.com
081513100600








emang parah mental rumah sakit diindonesia, semuanya cuma mementingkan dari sisi bisnisnya aja. Mereka ngga mau peduli gmn kondisi pasien, yg penting kamar rawat inap selalu full terisi. Kalo kejadian kyk bu.prita mungkin sudah banyak sekali orang yg mengalaminya, cuma nggak banyak juga yg berani mengangkatnya. Mudah2an keadilan akan selalu berpihak pada orang yg benar. Amin..
Harusnya dr. H, dr. G, dr.M dan Og –> YANG MASUK PENJARA
dg kasus ini RS OMNI tidak akan ada pasien yang datang
Bagus Ibu Prita saya dukung anda, memang sekarang ini banyak dokter yang mencari keuntungan semata, dan meninggalkan tugas mulia,
bagi para dokter kembalilah anda ke jalan yang benar
Fuck Commercial Shit !!!!!!!!!
ah . . . . . . mau komentar kok takut ya, apa karena kalau berhubungan dengan medis seolah-olah kebal hukum, terbukti tidak ada yang namanya oknum tenaga medis yang salah diagnosa atau apapun dengan kata lain mal praktik dihukum atau bertanggung jawab terhadap perbuatannya, saya nulis ini hanya aspirasi saja tolong ya saya jangan ditangkap!!!!!
inget pepatah, lidah tak bertulang jadi kudu atu2, apalagi, mulutmu harimaumu, tambah lagi, pedang tak setajam pena, mo nulis juga kudu pikir 1000x. ini kan negara yang isinya penuh dengan manusia2 berpola pikir kompleks dan macem2 daya tangkepnya, jadi ya it sekali lagi ati2, mending diem pilih aman.
Klo ditulis itu benar, maka wajar jika seseorang berkeluh kesah, arti setelah ada pemberitaan baru ribut, tapi saat di minta kadang2 pihak RS mana saja tidak becus.
maka di Indonesia paling ampuh hanya beerita yang mampu mengerakkan hati seseorang pemimpin.
prita klo benar berjuang terus pantang mundur semoga Allah SWT memberikan jalan yang paling adil dan diridhoi. amin
wah bikin emosi ini..
RS OMNI sialan.. huh!!
Menyampaikan kekesalan itu wajar2 saja kok,kalau memang benar kenapa mesti marah karena emang gitu kok , dan kalau nggak benar juga kenapa mesti marah kalau emang nggak lakuin itu ya khan.ya…mestinya sadar diri lah, semua yang disampaikan Bu Prita sebagai rem untuk melakukan kesalahan selanjutnya to….
Emang kepinteran itu kdg2 brbhya al nya loq kpntrn hnya bwt untuk main2in org bsa bwt sakit hati
seharusnya rumah sakit itu kena :
uu perlindungan konsumen
Dgn adanya kasus mb prita mudah2an jd pelajaran buat omni.
Saya sebenarnya sering mendapatkan pelayanan yang kurang memuaskan, apalagi ditambah saya seorang PNS yang apabila berobat pasti menggunakan ASKES, namun untungnya saya orangnya tukang PROTES yang langsung disampaikan kepada yang bersangkutan dan pada saat itu juga “dikejar” supaya permasalahan ada solusinya, ya klo tidak puas saya pasti menindaklanjuti ketidakpuasan saya itu ke tingkat yang lebih tinggi. SIAPA TAKUT!!! Makanya saya angkat 4 jempol buat bu Prita. Bravo dah..
Saran saya sekarang mah mending berobat ke AHLI HIKMAH (baik penyakit Lahir maupun Bathin, apakah dokter bisa mengobati orang yang kesurupan contohnya, jawabannya pasti GA BISA), aman, murah seridhonya, insya Allah diagnosanya 99% tidak meleset, dengan kekuatan do’a apapun bisa, asalkan kita YAKIN bahwa tiada penyakit yang tiada obatnya. Ingatlah bahwa semua pengobatan itu hanyalah sebuah syare’at namun hakikatnya Allah-lah Sang Penyembuh!!! Semoga Bangsa ini “emut kana purwadaksina” (kembali kepada jatidirinya). AMIIIIN…
Orang kecil memang selalu kalah dengan orang yang berduit.Yang sabar ya mbak Prita….
Wah,wah,wah.. Ini RS Omni merasa takut nama RS-nya tercemar beserta nama2 dokternya, Apa emg mereka salah sih?? Kalo emg itu gak bnr ya gak usah sampe nuntut gtu dong, mereka tinggal konfirmasi aja dan Bu Prita disuruh minta maaf, kan semuanya jd beres.. Kalo gini ceritanya pasti masyarakat berpikir emang tu RS yg salah. Hey,, kalo merasa bnr gak usah takut ya, kalo emg salah langsung aja meminta maaf.
yook mendingan rame-rame kita santet dr. H tersebut. biar ilmu dokter melawan ilmu dukun. hehehe…
Sabar ya mbak, Tuhan tidak pernah tidur, mungkin ini cobaan yg lagi diuji dariNya dan dengan hal ini kebusukan akan terungkap…HIDUP MBAK PRITA !
aduh, saya baru niat mau tes kesehatan disana, berhubung ada kabar gini, ogaaahhh ahhhhhh… ntar saya di infus2 ga jelas lagi padahal mau tes urine. RS OMNI kalo lo nuntut prita sama aja lo jatuhin harga diri n martabat lo, yakin deh tu RS bakal tutup
sabar bu prita Allah lagi menguji anda sabarlah…..
semua juga dikarenakan mahalnya untuk menjadi dokter tapi itu bukan satu-satunya alasan untuk membela diri bagi dokter
sebenarnya masalah seperti ini alangkah lebih baiknya di runding secara kekeluargaan. jika semua bisa duduk dan berunding untuk mencari jalan yang terbaik, saya yakin jalan keluar pasti ada, nggak perlu gembar gembor seperti ini. dengan kejadiaan seperti ini, baiknya marilah kita koreksi diri. kita jangan menge-just pasien salah karena menyebarkan berita yang mencemarkan nama baik suatu instansi. karena mereka merasa tidak puas dan menyampaikannya kepada orang lain, wajar khan. pihak rumah sakit sebaiknya juga koreksi diri. apakah selama ini service yang diberikan memuaskan, dan sebaiknya pihak rumah sakit juga harus bisa legowo kalau ada kritik dan saran maupun keluhan dari pasien. itu juga untuk kemajuan bagi rumah sakit itu sendiri.
semoga semua bisa terselesaikan dengan damai dan tanpa ada salah satu pihak yang merasa terugikan
Yach…semoga aja mbak prita sabar menghadapinya dech!
aku dukung Ibu prita deeh gtulah kalo berhadapan dengan birokrasi kompleks susah bgt salah bisa jadi bener,bener bisa di salahkan huuuuuuu kaya kkn di negeri ini heheheheheehe
Saya saja yg membaca email merasakan sakit hati dan geregetan.kok bisa keluarga mbak prita sabar banget!….hidup ..prita.
RS OMNI sudah merebut kemerdekaan orang lain untuk sehat, hidup
dan saya sangat setujuh dengan keputusan komisi 9 DPR RI untuk menutup RS OMNI Internasional, karena RS OMNI SUDAH MEREBUT HAK-HAK PASIEN, nyata-nyata nya sudak melanggar HAM, dengan menuntuk seorang Ibu Prita yang men Cerita kan pengalaman pahit ny selama dalam perawatan yang tidak becus dari RS OMNI Internasional, samapai-sampai Ibu Prita Masuk PENJARA, SEBENAR NYA YANG HARUS DI PENJARA ORANG-OARANG YANG TELAH MEMBUAT IBU PRITA MULYASARI MENDERIATA SELAMA DALAM PERAWATAN DI RS OMNI.
SEKALI LAGI SAYA MEMBERIKAN APRESIASI YANG SANGAT BESAR UNTUK IBU PRITA MULYASARI UNTUK TIDAK MENYERAH ATAS KE ZOLIMAN RS OMNI TERHADAP IBU PRITA DENGAN MEREBUT KEMERDEKAAN DALAM KESEHATAN, HIDUP DAN KEBEBASAN MENGELUARKAN PENDAPAT,
YANG MENYERAH Ibu Prita Mulyasari
wah baru tau isi emailnya..
ibu prita emang ga salah..
hanya sebuah keluahan yg dirasakan ibu prita terhadap RS Omni, merupakan wajar..
mudah2an ibu prita bisa menang…amien..
kasihan bapak Presiden SBY citra negara indonesia di mata dunia lagi – lagi di coreng oleh kejelekan hal ini terbukti dengan tenaga medis dan pelayanan kesehatan, program bapak presiden sudah bagus tetapi diamanatkan kepada orang yang tidak bagus ya walaupun tidak semua tetapi bagi saya itu hanya sebagian kecil sekali sekarang ini saya rasa KUHP dan KUHAP sudah karatan dan banyak yang karatan seperti besi apalagi ditambah aparat yang melaksanakan lebih kkaratan mereka saya nilai lebih mengarah ke hukum rimba siapa yang berkuasa yang bisa hidup seolah rakyat kecil itu sampah yang bisa ditekan dan ditindas alias bisa dimanfaatkan, selain kasus bu prita lihat kasus2 lain : jombang, situgintung, manohara itu membuktikan orang yang mengemban tugas dan diberi amanat kepada rakyat telah lemah aklaknya yang disertai juga banyaknya klemahan dalam KUHP dan KUHAP ya disitulah celah mereka yang kadang2 tidak bisa banyak membantu dan mereka seolah – oleh buta dan tidak menahu karenalemahnya untukmenjerat jika itu diangkat alhasil yang lemah kembali yang kalah contoh ini juga kasus pondasi perusahaan baja yang sudah 2 x runtuh tepatnya di kota KENDAL di kaliwungu depan perusahaan texmaco masyarakat sudah melporkan tapi apa kembali lagi karena kelemahan KUHP/KUHAP dan aparan rakyat kalah lagi karena tidak ada korban, tetapi kenapa membangun seperti itu yang tidak layak sesuai konstruksi bangunan di biarkan padahalsudah di laporkan dan sudah pernah runtuh d jangka runtuh yang kedua hanya tiga bulan itu pun tida di perhatikan malah dibangun terus tanpa memperhatikan konstruksi bangunan perusahaan sepertinya memang bersiasat mengusir secara halus supaya rakya mau menual murah kasihan rakyat selain polusi jika itu terjadi mereka jika membeli rumah lagi dengan ganti seperti itu tidak akan dapat rumah jika hidup di jalan pasti dikejar2SOSPOL PP katanya ingin menyejaterakan rakyat tolong bapak presiden apakah harus makan korban DAHULU BARU DI TINDAK LANJUTI KALAU SELAMA INI MELAPOR TETAPI MALAH RAKYAT YANG TERTEKAN
untuk kedua belah pihak, mari sama-sama intropeksi diri :)
peace…
yah, masalah ibu Prita tak hanya jd pelajaran Dr2 di rmah skit2 besar, juga buat pelajrn rmhsakit2 di kota2 kecil. dimana masyarakatnya belum tahu alur birokrasi rumah sakit. Dan bgi Dr2 bejat silakan anda minggat,sekarat tak usah nunggu kiamat !!!!
knp ya org kecil sll di tindas???Allah tunjukkan keadilanmu…
Asslm
saya mendukungmu Bu!!!!
memangharus seperti itu bu…..
Pasti bgi mrka da balasannya…..
Subhanallaah !, yang namanya keluhan disampaikan secara langsung ataupun tidak langsung, dilakukan secara tertutup ataupun terbuka, melalui media nyata ataupun media maya, untuk layanan jasa ataupun barang, yang ditujukan kepada owner, management ataupun server-nya di negeri manapun adalah hal yang wajar dan biasa. Contoh Yang paling biasa dengan keluhan terbuka adalah operator jasa telekomunikasi, perbankan dan transportasi yg sudah sangat biasa dengan penyampaian keluhan terbuka yang sekaligus bila ternyata ada kelalaian dalam pelayanannya tidak sungkan-sungkan untuk menyampaikan maaf secara terbuka pula, bahkan ada beberapa operator ataupun perbankan yang berani memberikan kompensasi atas keluhan client-nya yang tertutup ataupun terbuka. Semoga menjadi hikmah buat siapa saja karena pada dasarnya kehidupan kita ini terjadi saling client dan server antara satu pihak dengan pihak lainnya, Sebaiknya berujung klarifikasi dan clearing dan “BUKAN BERUJUNG PENAHANAN”
RS Omni akuin aja kalo salah.. klarifikasi yg benar,jangan sembunyi dibalik perisai etika medis (untung aja mbak prita masih bisa selamat.. kalo ngga???). Aku yakin pihak polisi bisa mengusut substansi masalahnya.. bukan malah korban dimasukin bui
saya sangat paham posisi yang dialami mbak Prita (meski hanya opini, saya akan dukung mbak Prita)
baru tahu isi emailnya bu prita, cabut aja ijinnya… bubarkan RS OMNI….
Ibu prita itu bisa mendapat penghargaan “pahlawan Pasien” jadi terus saja menulis jangan pernah takut…asalkan kita benar…pasti Tuhanakan memberikan jalan. Hidup Pasien …hidup bu Prita….kan kita smua ini calon pasien…termasuk dokter-dokter sinting….sono itu…
Usul !
Tuntut Balik pihak Rumah Sakit
tolong keadilannya serta keprofesionalannya dalam proses mba prita ini. . . . .PEACE
Alhamdulillah… mba PRITA msh diberi kekuatan lahir & bathin untuk menempuh hidup dan dapat berkumpul kembali bersama keluarganya, Dengan berkeluh kesah tentang ketidak nyamanan atas pelayanan salah satu rumah sakit di negeri tercinta kita ini. Mudah2an saja ini merupakan cobaan dari Yang Maha Kuasa untuk mempertebal keimanan & keyakinan mba PRITA. Smoga saja kejadian ini menjadi momentum awal dari penegakan supremasi hukum yg ada di NKRI ini dalam bidang pelayanan kesehatan. Dimana semua pihak tidaklah beranggapan bahwa sesuatu hal itu bisa dipandang sebelah mata saja, tapi segera cermati, tanggapi, dan tindaklanjuti dengan penuh rasa tanggung jawab serta menjunjung tinggi moral dan itikad yg baik.
Semoga lekas sembuh seperti sedia kala, salam buat mba PRITA sekeluarga….
Terus brjuang mb Prita! Laporkan saja para dr. yg bjat itu. Klo memang pny bukti yg kuat, kita tdk akan kalah…. (kcuali klo pegegak keadilan’y bisa DISUAP). Tp yakinlah, kbnaran akan slalu menang…
berjuang terus mbak prita!!!
saya yakin yg benar pasti akan menang…
moga2 saja jika saya telah menjadi dokter, saya tidak jadi seperti dokter” yg mbak prita sebutkan di atas…
ingat selalu berdoa…..
bnyak orang yg akan selalu mendukung anda.!!!
salam damai dari saya…
orang curhat ko masuk penjara??
katanya setiap warga negara Indonesia punya HAM……
berjuang trus mba Prita, mdah2an ksus nya beres…..
moga2 ini jadi pelajaran bagi semua dr n RS di indonesia, bahwa tdk selamanya yang namanya INTERNASIiONAL itu profesional, kepada Bu Prita, kami sekeluarga mendukung perjuangan Bu prita, dan KUPAS TUNTAS SEMUA KEBOHONGAN OMNI
Bu Prita sabar ya….terus berjuang bu
semangat ya Bu
seharusnya rumah sakit omni melihat Undang-Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan konsumen pada pasal 4 ayat a,f,g,
benar-benarlah pendapat komisi 9 DPR yang menginginkan ditutupnya rumah sakit itu karena RS itu tidak ada kualitas untuk masyarakat lagi melainkan untuk mencari materi saja.
Sukses bu Prita,
Terus berjuang,”kami” akan dukung anda 100%
Semangat tEruz Bu. . .
to meme: mendingan lo diam aja ga usah berkomentar. Kan lo sendiri yang bilang diem untuk cari aman. Kalau ga tahu pokok masalahnya mendingan ga usah berkomentar di blog ini..dasar meme begok.
kalau Isi email diatas benar maka terkutuk lak pemimpin indonesia saat ini.
Kasus ini sebaiknya tidak dilihat sebagai satu sisi saja. Saya tidak membela pihak manapun, hanya mencoba meluruskan saja. Saya adalah dokter umum sekaligus pernah menjadi pasien RS. Kalau menurut saya yang kurang tepat adalah cara penyampaian kata-kata di emailnya contohnya “semakin mewah RS dan pintar dokter maka sering uji coba obat ke pasien, penjualan obat dan suntikkan”. Kalimat tersebut merupakan suatu pencemaran nama baik karena belum ada pembuktiannya. Atas dasar apa bisa mengatakan demikian. Dokter juga punya hati nurani tidak mungkin main coba-coba obat dan suntikan pada pasiennya, kecuali dalam penelitian obat diperkenankan itupun harus ada dasar etika penelitian dan informed consent(ijin) dari subjek pasien yang diteliti.Berdasarkan email, Ibu Prita demam, sakit kepala kemudian dilakukan pemeriksaan lab dan ibu prita dirawat inap. Maksud dokter yang merawat baik dan perawatan rawat inap bukan hanya didasarkan hasil trombosit yang 27 ribu tapi juga melihat kondisi Ibu Prita yang demam 39 derajat dan lemah saat itu, ( Dokter merawat pasien bukan untuk keuntungan pribadi tapi berdasarkan kondisi pasien). Sebaliknya, Ibu Prita memang berhak mendapat penjelasan mengenai penyakitnya, obat-obat yang diberikan. Jika melihat kasus di atas yang harus dibenahi adalah managemen RSnya antara dokter, perawat, petugas lab dan pasien harus ada koordinasi. Sayangnya ibu Prita tidak mencantumkan kronologis secara jelas, berapa lama dirawat dan obat suntikkan apa yang diberikan.(pasien berhak mengetahui obat apa saja yang diberikan). Kesimpulannya masalah ini adalah masalah miskomunikasi antara dokter dan pasien. Pasien Prita merasa dokter tidak memberikan informasi mengenai penyakitnya, dan kesalahannya adalah menulis email yang menyudutkan dokter tersebut sedangkan belum ada bukti siapa yang sebenarnya salah dalam hal ini. Sekarang ada peraturan dokter hanya boleh praktik di 3 tempat saja untuk memaksimalkan kinerja dokter terhadap pasiennya. Masukkan juga untuk RS agar menambah jumlah dokter spesialisnya agar perbandingan jumlah dokter dan pasien seimbang sehingga pasien bisa berkomunikasi dengan lebih baik dengan dokternya. Sebagai catatan dokter juga hanya karyawan di RS tersebut, jadi manajemen RS juga perlu dibenahi.